BELAJAR dan terus kembangkanbudaya,itulah yangdikatakan leo sape yang merupakan salah satu penasehat grup sape kalbar malam itu pada 19 juli 2019 di cafe king,jl danau sentarum dalam kesempatan rapat kecil bersam komunitas sape kalbar.

Siapasih yang tak kenal alat musik sape? Sampai sekarang masih menjadi alat tradisional yang tetap digemari oleh kalangan muda jaman now.

Kehadiran komunitas sape kalbar ini merupakan salah satu wadah untuk orang muda penggiat sape (alat tradisional dayak).

Meskipun alat ini merupakan alat musik tradisional,namun alat ini bisa digunakan dengan perpadua alat musik modern.Kini alat musik sape tidak hanya digunakan kalangan komunitas kecil saja,namun sudah menjadi kesempatan hotel-hotel yang ada di pontianak sebagai daya tarik orang luar kalbar untuk menikmati nuansa pontiank.

Komunitas ini dibentuk supaya orang-orang muda tahu dan sadar bahwa budaya adalah salah satu pelajaran moral yang sangat penting untuk diturunkan dari generasi kegenerasi.Ciri khas dari ,”cengkokan bunyi sape jangan sampai hilang,”kata leo.

Hal yang sama juga disampaikan feri sape yang sedikit menceritakan pengalaman nya dalam memperkenalkan musik di hotel golden tulip kurang lebih enam bulan terakhir ruti memainkan sape secara reguler.”Sebenarnya inilah proses dan sekali gus sebuah kesempatan kita untuk memperkenalkan budaya lokal dengan orang-orang pendatang dari luar kalbar,”

Sebelum menutup perbincangan singkat malam itu,leo sape mengatakan bahwa niat untuk mengembangkan dan memperkenalkan budaya yang palin penting adalah sikap diri yang harus selalu haus belajar.

Belajar dan terus belajar merupakan sebuah kunci pembaharuan untuk terus melestarikan budaya dengan penyesuaian model gaya hidup genersi milenial saat ini,”tandasnya.

Sumber : Tribun Pontianak