SINTANG-RK bernada lantang dan berlogat bahasa daerah yang kental. Dibumbui ekspresi wajah yang kuat. Pencerita membawa penonton masuk dalam suasana alur cerita yang disampaikan. Hal tersebut dirasakan saat 26 peserta dari 15 sekolah yang ada di Kabupaten Sintang, mengikuti lomba cerita rakyat dalam bahasa lokal sintang, di Gedung Pancasila, Kamis(25/4).

Kegiatan ini merupakan satu dari sekian banyak rangkaian acara dalam rangka memperingati hari jadi Kota Sintang yang ke-657. Bahasa yang digunakan dalam lomba bercerita adalah bahasa Dayak dan Melayu. Bupati Sintang Jarot Winarno diwakili Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sintang, Lindra Azmar dalam sambutannya saat membuka kegiatan tersebut mengapresiasi lomba tersebut ini dapat menjadi media untuk melestarikan kearifan lokal budaya khas Sintang.

 

Generasi muda dikatakannya perlu mempelajari hal-hal baik yang telah diwariskan oleh nenek moyang melalui cerita-cerita rakyat.” Saya berharap lomba seperti ini dapat terus dilaksanakan untuk tahun-tahun kedepan,” harapanya.

Dia juga mengajak semua komponen untuk terus memasyarakatkan bahasa lokal daerah Sintang dalam pergaulan sehari-hari. Sehingga menarik minta generasi muda untuk mempelajari bahasa lokal sintang. Kabid Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Pariwisata kabupaten Sintang, Siti Musrikah selaku ketua panitia mengatakan, kegiatan ini sebagai sarana edukasi khusunya generasi muda dan masyarakat Sintang.

“Kegiatan ini dapat menggali kembali kekayaan budaya Sintang, dalam hal bahasa tutur atau lisan dengan menggunakan bahasa daerah sebagai warisan budaya tak benda,”jelasnya. Kegiatan ini sekaligus bertujuan untuk mengenalkan bahasa daerah Sintang ke dunia Pendidikan agar dikenal luas. Dipakai semua kalangan masyarakat.” Semoga bahasa Sintang dapat menjadi acuan utuk pembelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah yang ada di Sintang,”harapanya.

Dewan juri pada kegiatan ini adalah guru-guru Bahasa Indonesia dan perwakilan Dinas Pendidikan yang menguasai bahasa daerah, yaitu bahasa Melayu dan bahasa Dayak. Diantaranya Oravia Maria Magdalena dari SMPN 2 Kelam Permai Paridayanti dari SMPN 2 Sintang dan Sofyan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang.

Oravia Maria Magdalena mengatakan untuk satu peserta diberikan waktu maksimal tujuh menit bercerita. Kriteria penilaian dari lomba ini adalah pemilihan kata yang tepat untuk digunakan dalam bercerita, ekspresi, mimik, gerak tubuh, serta melihat kesesuaian antara cerita asli dan yang akan mereka ceritakan.

Dia juga berharap kedepan generasi muda dapat menguasai bahasa lokal daerah Sintang, sehingga budaya bahasa yang sudah ada sejak nenek moyang tidak hilang ditelan jaman dan dapat terus dilestarikan.

Sumber: Rakyat Kalbar  Jum’at  26 April 2019