Aplikasi iKalbar: Membangun Budaya Baca Masyarakat Kalimantan Barat di Masa Pandemi Covid-19

Penulis : Atiqa Nur Latifa Hanum & Fajar Al-Khooliqu Baaqii
Artikel telah diterbitkan di Record and Library Journal Volume 7, No. 1, 2021

0
16

Abstract

Background of the study: West Kalimantan was in 31st position with a score of 28.36 for the Provincial Reading Literacy Activity (Alibaca) index. It’s means that peaople’s reading interest is low.
Purpose: To improve the reading culture in West Kalimantan, there were digital library application called iKalbar.
Method: The data were was primary data sources taken from 1,224 respondents as the population and 93 respondents as the sample. It used a quota sampling technique. The data collection technique used descriptive analysis with SPSS 25.
Findings: The result on the accessibility dimension showed that te majority of respondents scored iKalbar as the comfortable and easy application for searching the books that they needed when their mobility was limited during the lockdown period. Meanwhile, on the reusability dimension, the majority of respondents scored it as the efficient and effective application, especially during the pandemic to look for the resources needed. It can be seen from the three dimensions of assessment of the reading culture of the people of West Kalimantan that the majority of respondents considered iKalbar application providing user friendly, especially in the features which was compatible for all the devices. Furthermore, the additional duration and number of books to be borrowed provided by the application resulted the improvement in accessing and reading electronic books in iKalbar application.
Conclusions: As people’s access to iKalbar increases, people will get used to the habit of accessing and reading electronic books. The habit that was started due to the momentum of the pandemic has encourage the growth of a reading culture among the community, although it has not shown a significant reading culture among the people of West Kalimantan.
Keywords: Digital Library; Reading Interest; iKalbar

Abstrak

Latar Belakang Masalah: Kalimantan Barat berada di posisi 31 dengan skor 28,36 untuk indeks Kegiatan Literasi Membaca Provinsi (Alibaca). Artinya minat baca masyarakat masih rendah.
Tujuan: Untuk meningkatkan budaya baca di Kalbar, telah ada aplikasi perpustakaan digital bernama iKalbar.
Metode: Data yang digunakan adalah sumber data primer yang diambil dari 1.224 responden sebagai populasi dan 93 responden sebagai sampel. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah quota sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan analisis deskriptif dengan bantuan SPSS 25.
Hasil: Hasil pada dimensi aksesibilitas menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai iKalbar sebagai aplikasi yang nyaman dan mudah untuk mencari buku yang mereka butuhkan ketika mobilitas mereka terbatas selama masa lockdown. Sedangkan pada dimensi reusability, mayoritas responden menilainya sebagai aplikasi yang efisien dan efektif, terutama pada masa pandemi untuk mencari sumber daya yang dibutuhkan. Terlihat dari tiga dimensi penilaian budaya baca masyarakat Kalimantan Barat yang sebagian besar responden menilai aplikasi iKalbar memberikan tampilan yang user friendly, terutama pada fitur-fitur yang kompatibel untuk semua perangkat. Selain itu, penambahan durasi dan jumlah buku yang akan dipinjam yang disediakan oleh aplikasi mengakibatkan peningkatan dalam mengakses dan membaca buku elektronik di aplikasi iKalbar.
Kesimpulan: Dengan meningkatnya akses masyarakat terhadap iKalbar, masyarakat akan terbiasa dengan kebiasaan mengakses dan membaca buku elektronik. Kebiasaan yang dimulai karena momentum pandemi telah mendorong tumbuhnya budaya baca di kalangan masyarakat, meski belum menunjukkan budaya baca yang signifikan di kalangan masyarakat Kalbar.
Kata kunci: Perpustakaan Digital; Minat Baca; iKalbar

Pendahuluan

Perpustakaan menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 pada intinya, merupakan institusi kelola karya tulis, dengan pencetak ataupun perekamnya yang menjadi professional dengan sistemya yang baku pada pemenuhan yang diperlukan. Dengan dipaparkan bahwa perpustakaan dibentuk untuk pemenuhan yang diperlukan pada pengkajian, dengan perpustakaan, penyedia jasa fungsi dan tujuan yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007. Dalam Bab I Pasal 3 dijelaskan pada intinya, jika berguna untuk media edukasi, pengkajian dan keberdayaan. Sementara pada Bab I Pasal 4 dijelaskan bahwa perpustakaan memiliki tujuan pemberian pelayanan dan hal yang digemari untuk memperluas pengetahuan untuk pencerdasan.

Membaca menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu perhatian pada pemahaman isi, dengan yang dilisankan, pelafalan ataupun yang diucapkan, pengetahuan dan perhitungan. Sedangkan membaca merupakan fase mendapatkan pemaknaan dari perpaduan hurufnya, dengan lambang atau yang menjadi makna (Hartono, 2016). Dengan demikian, budaya membaca adalah kebiasaan membaca yang telah tertanam dan sukar diubah.

Pada survei yang dilaksanakan oleh Central Connecticut State University di tahun 2016 mengenai literasi di 61 negara, Indonesia berada di posisi 60, di atas Bostwana yang berada pada peringkat 61. Sementara survei Badan Pusat Statistik tahun 2015 mengenai akses media yang sering digunakan pada kurun waktu sepuluh tahun terakhir pada tahun 2009-2015, masyarakat Indonesia lebih banyak mengakses televisi dengan persentase 90,27% pada tahun 2009, 91,55% pada tahun 2012, dan 91,47% pada tahun 2015. Untuk radio pada tahun 2009 diakses dengan persentase 23,5%, 18,55% pada tahun 2012, dan pada tahun 2015 dengan persentase 7,54%. Sedangkan untuk membaca koran pada tahun 2012 masyarakat Indonesia hanya mengakses dengan persentase 18,94%, lalu pada tahun 2012 dengan persentase 17,66%, dan 13,11% pada tahun 2015 (Wiratno et al., 2017).

Persentase tersebut menunjukkan bahwa budaya membaca masyarakat Indonesia masih rendah apalagi jika melihat kondisi sekarang bahwa masyarakat tidak luput dalam memegang ponsel cerdas dan internet. Dalam survei yang dilakukan oleh Kominfo dan APJII pada tahun 2017, masyarakat Indonesia menggunakan ponsel cerdas sebanyak 50,08% dan pengguna internet 143,26 Juta jiwa chatting sebagai layanan yang banyak digunakan dengan persentase 89,35%. Hal ini cenderung terbalik dengan survei Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai indeks alibaca tahun 2018.

Indeks Alibaca adalah indeks mengenai aktivitas literasi membaca. Hasil survei Indeks Alibaca Nasional menyebutkan bahwa nilai rata-rata Indeks Alibaca Nasional dikategorikan pada aktivitas literasi rendah dengan nilai 37,32. Dalam Indeks Alibaca Provinsi, 9 Provinsi tergolong pada kategori literasi sedang, 24 Provinsi tergolong kategori literasi rendah, dan 1 Provinsi tergolong sangat rendah. Dari 34 Provinsi di Indonesia, Kalimantan Barat menduduki peringkat tiga terbawah dengan nilai Indeks Alibaca sebesar 28,63. Posisi Provinsi Kalimantan Barat lebih tinggi dari pada Provinsi Papua Barat dengan nilai sejumlah 28,25 dan Provinsi Papua dengan nilai sejumlah 19,90.

Untuk meningkatkan nilai Indeks Alibaca di Kalimantan Barat, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat menyediakan beberapa layanan andalan, salah satunya layanan perpustakaan digital iKalbar. iKalbar adalah aplikasi perpustakaan digital milik Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat yang bekerja sama dengan PT Woolu Aksara Maya. Aplikasi ini diluncurkan pada tanggal 1 November 2017, bertepatan dengan pembukaan penyelenggaraan Kalbar Book Fair 2017.

Aplikasi ini dapat diunduh di Play Store untuk ponsel cerdas berbasis android dan mengunjungi situs website Perpustakaan Provinsi Kalimantan Barat untuk mengunduh aplikasi iKalbar untuk komputer dan sejenisnya. Aplikasi ini menyediakan buku berbasis elektronik dengan masing-masing 1 eksemplar per 1 judul buku, dan masa peminjaman selama tujuh hari per pemustaka. Setiap pemustaka dapat meminjam koleksi maksimal 2 judul buku per hari.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survey untuk memperoleh data berkenaan dengan keyakinan, pendapat, karakteristik, perilaku, maupun hubungan variabel. Teknik pengumpulan data berupa penyebaran kuesioner, dan diperdalam dengan wawancara maupun pengamatan. Hasil penelitian cenderung untuk disimpulkan secara umum (Sugiyono, 2019).

Data penelitian diperoleh dari data primer yang didapatkan dari populasi dan sampel dengan menggunakan teknik sampling kuota. Populasi diambil dari masyarakat Kalimantan Barat yang menggunakan aplikasi iKalbar sejumlah 1.224 pengguna per Desember 2019. Sedangkan pengambilan sampel menggunakan rumus Yamane dengan penggunaan taraf kesalahan 10%, sehingga total sampel yang digunakan berjumlah 93.

Teknik analisa data menggunakan analisis deskriptif. Pengujian uji outlier, uji validitas, dan uji reliabilitas menggunakan aplikasi IBM SPSS Statistics 25. Data outlier adalah data yang tampak berbeda dari data-data lain (Santoso, 2017). Sebuah data dikategorikan data outlier apabila nilai Z lebih besar dari +2,5 atau -2,5. Pada uji validitas, data dikatakan valid ketika taraf signifikansi yang dihasilkan koefisien korelasi ≤ 0,05 maka butir yang bersangkutan dinyatakan valid. Sebaliknya ketika koefisien memiliki taraf signifikansi > 0,05, maka butir tersebut dinyatakan tidak valid. Sedangkan data bisa dikatakan reliabilitas menurut Sekaran jika koefisien reliabilitas hasil perhitungan menunjukkan angka ≥ 0,6 (Mustafa, 2013).

Tinggalkan Balasan

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini